Page 55 - MUHA MAGAZINE #1
P. 55
Fenomena tersebut terlihat dari semakin Meski membawa dampak positif dalam hal
banyaknya pelajar yang aktif membuat konten kreativitas dan keberanian berekspresi, para ahli
setiap hari demi mempertahankan eksistensi di mengingatkan bahwa penggunaan media
dunia digital. Tidak sedikit remaja yang rela sosial secara berlebihan dapat memengaruhi
menghabiskan waktu berjam-jam untuk kondisi psikologis remaja. Psikolog pendidikan
merekam video, mengedit konten, hingga Universitas Negeri Yogyakarta, Dr. Siti
mengikuti tantangan viral agar masuk ke Mahendra, menjelaskan bahwa remaja
halaman “For You Page” (FYP) Tiktok. merupakan kelompok usia yang mudah
Salah seorang pelajar SMA di Kota dipengaruhi lingkungan sosial, termasuk tren
Yogyakarta, Nabilla (16), mengaku mulai digital.
mengikuti tren “Dance Brazil” karena banyak “Ketika remaja terlalu bergantung pada
teman sekolahnya yang lebih dahulu membuat validasi media sosial, mereka cenderung
konten serupa. “Awalnya cuma ikut-ikutan merasa cemas jika tidak mendapatkan respons
karena ramai di Tiktok. Tapi setelah videoku sesuai harapan. Hal ini bisa memicu stres
banyak yang menonton, jadi senang dan lebih hingga menurunkan rasa percaya diri,” jelasnya.
percaya diri,” katanya saat ditemukan sedang Selain itu, muncul pula kekhawatiran terkait
membuat tren tersebut di perpustakaan Jumat perubahan pola aktivitas harian pelajar.
(16/5). Hal senada disampaikan Khobir (17), siswa Beberapa orang tua mengaku anak-anak
SMA lainnya. Ia menilai tren tarian viral menjadi mereka menjadi lebih sering bermain gawai
cara baru bagi remaja untuk membangun dibandingkan belajar atau berinteraksi
pertemanan. “Kalau ikut tren yang sama, jadi langsung dengan keluarga. Kondisi tersebut
lebih gampang nyambung saat ngobrol dinilai dapat mengurangi kualitas komunikasi
dengan teman,” ujarnya. dalam lingkungan rumah.
Kepala Bidang Pendidikan Pemuda dan
Olahraga Kota Yogyakarta, Agus Santoso,
mengatakan bahwa perkembangan teknologi
tidak dapat dihindari, namun perlu diimbangi
dengan literasi digital yang baik. Menurutnya,
sekolah memiliki peran penting dalam
memberikan pemahaman kepada siswa
mengenai penggunaan media sosial secara
sehat.
“Media sosial bisa menjadi sarana kreativitas
dan pengembangan bakat jika digunakan
dengan benar. Yang perlu diperhatikan adalah
bagaimana remaja mampu memilah konten
yang pantas serta mengatur waktu
penggunaannya,” katanya. Pemerintah Kota
Yogyakarta sendiri mulai mendorong berbagai
program edukasi digital bagi pelajar melalui
seminar dan kegiatan sekolah.

