Page 54 - MUHA MAGAZINE #1
P. 54
POV
Fenomena
DANCE BRAZIL
Bagaimana Tren
Media Sosial
Mengubah
Perilaku Remaja
Di Indonesia
Oleh Atina Nadia Husna
Tiktok kini tidak hanya digunakan oleh Guru sosiologi SMA di Yogyakarta, Rina
remaja di Indonesia, tetapi menyebar luas hingga Wulandari, mengatakan bahwa media sosial
ke banyak negara, sehingga memudahkan memiliki pengaruh besar terhadap perilaku
pengguna mengenal banyak budaya baru yang generasi muda saat ini. “Remaja perlu bijak
salah satunya adalah “Dance Brazil”. Tren tarian dalam mengikuti tren. Tidak semua yang viral
ini menjadi viral karena gerakannya yang energik, harus ditiru”, ujarnya. Meski begitu, fenomena
musik yang menarik, serta mudah ditiru oleh “Dance Brazil” menunjukkan bahwa media
para remaja. Selain karena musiknya yang sosial memiliki kekuatan besar dalam
menarik, fenomena ini dengan cepat menyebar menyebarkan budaya dan memengaruhi gaya
melalui media sosial, sehingga pengguna Tiktok hidup remaja. Oleh karena itu, diperlukan
berlomba-lomba membuat video dengan gaya pengawasan dari orang tua serta kesadaran
tarian tersebut untuk mendapatkan banyak remaja untuk menggunakan media sosial
penonton, suka, dan komentar. Sejumlah remaja secara positif dan bertanggung jawab.
yang mengikuti tren ini demi dianggap
mengikuti perkembangan zaman atau agar tidak Pergeseran Budaya
tertinggal
dari teman-temannya. dan Standar
Menurut beberapa remaja di Yogyakarta,
tren “Dance Brazil” dianggap sebagai hiburan Pengakuan Sosial
yang menyenangkan dan dapat meningkatkan
rasa percaya diri. Selain itu, mereka juga merasa Dampak paling nyata dari masifnya tren
lebih mudah berinteraksi dengan teman sebaya ini adalah terjadinya pergeseran cara remaja
melalui konten yang sedang viral, di balik mencari pengakuan sosial ( social validation).
popularitasnya, tren ini juga menimbulkan Jika dahulu prestasi akademis atau olahraga
berbagai pendapat dari sudut pandang. Sebagian menjadi tolok ukur utama dalam lingkungan
orang menilai bahwa beberapa gerakan tarian pergaulan, kini populitasnya di media sosial
dianggap kurang sesuai untuk ditiru oleh remaja. mulai dianggap memiliki nilai yang sama
Muncul pula kekhawatiran bahwa penggunaan pentingnya. Jumlah tayangan, pengikut,
media sosial secara berlebihan hingga komentar positif membuat
dapat mengalihkan fokus pelajar dari kegiatan kepercayaan diri mereka meningkat.
belajar.

