Page 20 - MUHA MAGAZINE #1
P. 20
Hal ini dianggap penting untuk memastikan
bahwa mereka tidak sepenuhnya bergantung
pada pasangan laki-laki dan dapat menghadapi
tantangan yang mungkin muncul dalam
pernikahan. Menurut mereka, kesiapan mental Selain itu, mereka juga menekankan
dan fisik jauh lebih penting dibandingkan pentingnya pondasi agama yang kuat sebagai
sekadar usia sebagai indikator kesiapan pedoman dalam menjalani kehidupan rumah
menikah. tangga. Dengan bekal tersebut, mereka
Di sisi lain, respons siswa laki-laki terhadap berharap dapat menciptakan stabilitas dan
tren “Marriage Is Scary” cenderung lebih kenyamanan bagi keluarga mereka di masa
bervariasi. Banyak dari mereka mengaku belum depan. Selain tren “Marriage Is Scary”, isu
pernah mendengar istilah ini sebelum “childfree” juga menjadi topik diskusi yang
dijelaskan dan diperlihatkan unggahan terkait menarik di kalangan siswa-siswi SMA
dari media sosial. Setelah memahami Muhammadiyah 2 Yogyakarta. Tren “childfree”,
konsepnya, tanggapan mereka pun beragam. yang mengacu pada keputusan pasangan
Ada yang merasa bahwa pernikahan bukanlah suami istri untuk menunda atau tidak memiliki
sesuatu yang perlu ditakuti, namun ada juga anak, belakangan ini semakin populer di media
yang mulai khawatir akan kemungkinan sosial.
melakukan kesalahan yang sama seperti yang Siswi SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta
diceritakan dalam narasi “Marriage Is Scary”. mengaku tidak asing dengan istilah ini. Mereka
Meski begitu, sebagian besar siswa laki-laki menyadari bahwa memiliki anak adalah
sepakat bahwa pandangan mereka terhadap keputusan besar yang disertai tanggung jawab
pernikahan sangat dipengaruhi oleh pola asuh besar pula. Beberapa siswi mengungkapkan
orang tua dan lingkungan tempat mereka rasa takut terhadap kemungkinan mengalami
tumbuh. Beberapa siswa bahkan mengaku “baby blues” atau tantangan emosional lainnya
memiliki trauma akibat pengalaman buruk setelah melahirkan. Namun, mayoritas siswi
dalam keluarga, tetapi hal ini tidak tetap menyatakan bahwa “childfree” bukanlah
menyurutkan niat mereka untuk menikah. pilihan pribadi mereka. Mereka menantikan
Sebaliknya, pengalaman tersebut justru momen untuk memiliki anak setelah menikah,
menjadi motivasi bagi mereka untuk menjadi meskipun keputusan tersebut harus melalui
pria yang bertanggung jawab dan mampu diskusi dan kesepakatan matang dengan
membangun keluarga yang harmonis di masa pasangan. Siswa laki-laki memiliki pandangan
depan. Dalam mempersiapkan diri untuk yang hampir serupa terkait isu “childfree”.
pernikahan, siswa laki-laki lebih fokus pada Mereka melihat keputusan untuk tidak
aspek material. Mereka menyebutkan bahwa memiliki anak sebagai sesuatu yang harus
memiliki pekerjaan tetap, rumah, kendaraan didasarkan pada kesepakatan bersama dengan
pribadi, dan aset lainnya adalah prioritas utama pasangan.
sebelum menikah.

