Page 24 - MUHA MAGAZINE #1
P. 24
Psikologi
Stop Solusi atas persoalan ini bukan sekadar
membatasi penggunaan media social atau
memilah dan memlih informasi saja, melainkan
Cyberbullying membangun fondasi yang lebih dalam yaitu
self-love atau mencintai diri sendiri.
Self love bukan sikap egois. Mencintai diri
Start Loving Yourself sendiri berarti remaja memahami bahwa nilai
dirinya tidak ditentukan oleh komentar orang
lain, maupun penerimaan suatu kelompok di
Oleh Naila Amandita dunia maya. Remaja yang memiliki identitas diri
yang kuat terbukti lebih tahan menghadapi
Di era digital yang terus berkembang serangan siber, karena mampu memilah mana
pesat, media sosial telah menjadi bagian yang tak kritik yang membangun dan mana ejekan yang
terpisahkan dari kehidupan remaja. Media sosial tidak perlu ditanggapi.
memiliki dampak positif maupun berbagai Terdapat beberapa langkah yang dapat
dampak negatif. Salah satu dampak negatif diterapkan. Pertama, manfaatkan fitur block,
penggunaan media sosial adalah rentan mute, atau report pada akun yang
terjadinya cyberbullying. Berdasarkan data dari menyebarkan konten menyakitkan setiap
UNICEF 2021 mencatat bahwa 45% anak pengguna berhak menjaga dam membatasi
Indonesia usia 14–24 tahun pernah menjadi ruang digitalnya agar tetap sehat. Kedua,
korban cyberbullying. Artinya, hampir setengah biasakan berpikir sebelum berkomentar.Jeda
dari populasi remaja Indonesia pernah singkat untuk mempertimbangkan dampak
merasakan perundungan di dunia maya. Angka sebuah unggahan dapat mencegah luka bagi
ini membuktikan bahwa cyberbullying bukan isu orang lain. Ketiga, jangan memendam
kecil yang bisa diabaikan. permasalahan sendirian ceritakan kepada
Cyberbullying kerap dianggap sebagai hal orang tua, sahabat, atau guru yang siap
biasa atau sekadar candaan. Padahal, hal ini memberikan dukungan.
dapat menyerang kondisi psikologis para korban. Sekolah dan media sosial seharusnya menjadi
Yang mengejutkan, platform yang paling sering ruang yang aman bagi remaja untuk
dijadikan arena cyberbullying bukan Instagram bertumbuh. Dengan membangun rasa cinta
atau TikTok, melainkan WhatsApp dengan terhadap diri sendiri, seorang remaja tidak
persentase 71%. Fitur grup yang semestinya hanya melindungi kesehatan mentalnya, tetapi
mempermudah koordinasi belajar justru kerap juga turut menciptakan lingkungan digital
berubah menjadi ruang untuk menyindir dan yang sehat bagi semua.
mengucilkan sesama.
Masa remaja merupakan fase paling krusial
dalam pembentukan jati diri. Kepercayaan diri
tumbuh dari proses mengenal dan menerima diri
sendiri secara positif. Namun, ketika seorang
remaja terus-menerus menerima serangan
digital, proses tersebut dapat terganggu.
Penelitian mengidentifikasi tiga lapis dampak
yang akan dialami korban. Dampak afektif adalah
yang paling umum korban mulai kehilangan
kepercayaan diri, merasa malu dengan kondisi
fisik dan penampilannya, mudah cemas, bahkan
rentan mengalami depresi. Dampak kognitif
mengikuti konsentrasi belajar menurun dan
prestasi akademik ikut merosot. Dampak konatif
yaitu ketika korban menarik diri dari pergaulan
sosial karena merasa tidak diterima oleh
kelompoknya.

