Page 27 - MUHA MAGAZINE #1
P. 27

Bapak menghela nafas, “Dari dulu bapak                 “Dari  awal,  Raja  memang  tidak  pernah
         selalu  penasaran,  apa  yang  membuat  raja           tertarik untuk ikut lomba, Pak!” Nada bicaraku
         sebenci itu dengan wayang.”                            naik satu oktaf dibanding biasanya. Raut wajah
         Aku meremas ujung bajuku, menunggu bapak               bapak  menjadi  lebih  emosi.  “Lagian,  Raja  ikut
         menyelesaikan  kalimatnya.  “Raja  selalu  bilang      hanya untuk ambil perhatian bapak! Selama ini
         kalau  tidak  cocok  memainkan  wayang.  Bapak         kan  bapak  hanya  peduli  sama  Mas  Dino  dan
         tahu, pasti bukan itu alasan sebenarnya.”              Mbak Kia.” Mataku mulai terasa panas, kelopak
               Tanganku mengepal dengan kuat, rahangku          mataku sudah berlinang air mata.
         mengeras. Memori kehidupanku mulai                                 Bapak  menghela  nafas,  “Dari  dulu  bapak
         terputar   lagi   dengan   jelas   di   benakku.       selalu  penasaran,  apa  yang  membuat  raja
         Kehidupan  SMA-ku  memang  tidak  seindah  itu.        sebenci  itu  dengan  wayang.”  Aku  meremas
         Label  anak  dari  dalang  wayang  sudah  melekat      ujung bajuku, menunggu bapak menyelesaikan
         membuatku menjadi samsak yang pas untuk                kalimatnya. “Raja selalu bilang kalau tidak cocok
         perundungan.       Ejekan     verbal     hingga        memainkan  wayang.  Bapak  tahu,  pasti  bukan
         perundungan  fisik  sudah  ku  alami.  Selama  ini     itu alasan sebenarnya.”
         aku hanya diam tidak melawan, meskipun aku                   Tanganku mengepal dengan kuat, rahangku
         tahu  aku  mampu  untuk  melawan.  Aku  hanya          mengeras. Memori kehidupanku mulai
         merasa  tidak  untungnya  juga  kalau  melawan,        terputar   lagi   dengan    jelas   di   benakku.
         memang  beginilah  nasibku.  Terkadang  rasa           Kehidupan  SMA-ku  memang  tidak  seindah  itu.
         malu menguasai diriku. Maka dari itu, aku selalu       Label  anak  dari  dalang  wayang  sudah  melekat
         menunggu waktu pulang sekolah untuk segera             membuatku menjadi samsak yang pas untuk
         meninggalkan  sekolah.  Ketika  aku  sudah             perundungan.       Ejekan      verbal     hingga
         merasa lelah dengan segalanya, aku akan pergi          perundungan  fisik  sudah  ku  alami.  Selama  ini
         ke  ruang  musik  sendirian  dan  memainkan            aku hanya diam tidak melawan, meskipun aku
         drum dengan sekuat tenaga untuk melepaskan             tahu  aku  mampu  untuk  melawan.  Aku  hanya
         semua beban yang terpendam.                            merasa  tidak  untungnya  juga  kalau  melawan,
                  Bapak akhirnya pergi keluar dari kamarku      memang  beginilah  nasibku.  Terkadang  rasa
         setelah menyelesaikan kalimatnya.                      malu menguasai diriku. Maka dari itu, aku selalu
         Pikiranku  campur  aduk,  seolah  olah  batinku        menunggu waktu pulang sekolah untuk segera
         sedang    saling   berdebat.    Akhirnya     aku       meninggalkan  sekolah.  Ketika  aku  sudah
         membaringkan  tubuhku  dan  memejamkan                 merasa lelah dengan segalanya, aku akan pergi
         mataku.                                                ke  ruang  musik  sendirian  dan  memainkan
                     Pandanganku  gelap.  Aku  tidak  tahu  ini  drum dengan sekuat tenaga untuk melepaskan
         dimana.  Aku  seperti  berada  di  ruangan  gelap      semua beban yang terpendam.
         tanpa  ujung.  Perlahan,  aku  memberanikan  diri               Bapak akhirnya pergi keluar dari kamarku
         untuk  berjalan  mencari  jalan  keluar.  Tiba  tiba   setelah menyelesaikan kalimatnya.
         aku  merasakan  ada  yang  meniup  leherku.            Pikiranku  campur  aduk,  seolah  olah  batinku
         Merinding,     aku     segera     mempercepat          sedang     saling   berdebat.    Akhirnya    aku
         langkahku.  Sebuah  wayang  terlihat  tergeletak       membaringkan  tubuhku  dan  memejamkan
         di  bawah.  Tangan  ku  berusaha  meraihnya  dan       mataku.
         tiba  tiba  wayang  tersebut  berdiri  tegak  tanpa                Pandanganku  gelap.  Aku  tidak  tahu  ini
         bantuan siapapun dan mulai mendekatiku.                dimana.  Aku  seperti  berada  di  ruangan  gelap
                                                                tanpa  ujung.  Perlahan,  aku  memberanikan  diri
                                                                untuk  berjalan  mencari  jalan  keluar.  Tiba  tiba
                                                                aku  merasakan  ada  yang  meniup  leherku.
                                                                Merinding,     aku     segera     mempercepat
                                                                langkahku.  Sebuah  wayang  terlihat  tergeletak
                                                                di  bawah.  Tangan  ku  berusaha  meraihnya  dan
                                                                tiba  tiba  wayang  tersebut  berdiri  tegak  tanpa
                                                                bantuan siapapun dan mulai mendekatiku.
   22   23   24   25   26   27   28   29   30   31   32