Page 30 - MUHA MAGAZINE #1
P. 30
Ruang Talenta
Teman macam apa jikalau aku
menyuruhnya untuk memanjat bersamaku.
Awewe Dengan terpaksa kupanjat pohon jambu air
itu. Susah sangat. Tiap dahannya licin.
Pulau Dipenuhi oleh lumut dan seribu lendir siput.
Akses gerakku terbatas. Tidak bebas dan
merasa tidak nyaman karena aku sedang
menggunakan rok hari ini. Aku takut terjatuh
Merauke karena kain dari rok ini yang menjuntai
Walhasil
panjang.
mereka
kukembalikan
kepada yang semestinya. Aman sudah dua
burung itu, tak lupa aku menambah batu di
Oleh Latifah Vania tiap sisi rumah itu, supaya memberikan
perlindungan kepada mereka. Terdengar suara
Angin rimbun di bawah pohon. Kami cekikan yang aku rasakan di bawahku.
bersemayam di rumput yang sedang menari- Ternyata sedari tadi ada anak laki-laki lain yang
nari dengan iringan angin. Bruk! Ada suara sudah ada di bawahku. “Hei, jangan diintip
asing dari pinggiran pohon. Seperti ada yang dong! Pergi aja sana!” Amarah Lulu akibat ulah
jatuh, tidak mungkin daun dan tidak mungkin yang dilakuan dua anak laki-laki tersebut. Oh
ranting. Ternyata ada rumah yang mengalami Tuhan. Aku lupa aku sedang tidak
musibah. Di dalamnya terdapat anak-anak menggunakan celana seperti biasanya pada
hewan berbulu yang ditinggalkan induknya. hari ini.
Meminta tolong tapi menggunakan bahasa Sungguh mata keranjang. Mata penuh
mereka. Burung itu ada dua. Dua burung kedosaan. Sifat keji ini terjadi padaku.
betina itu sedang merengek kehausan. Butuh Bersungut kesal aku kumpulkan dendamku
induknya. Butuh perlindungan. Jangan! Jangan menjadi satu. Depakan keras meluncur cepat
dirusak. Jangan disakiti. Harus dilindungi. Angin dan tepat di wajah para lelaki itu. Rasa
yang sahdu ternyata membawa pilu untuk kemenangan tergambar di wajahku. Raut
mereka berdua. Kita harus kembalikan. wajah mereka berubah drastis. Sudah seperti
Bagaimana caranya? Kita orang kecil, orang banteng yang ada di perlombaan saja.
pendek. Aku tidak sanggup meraihnya. Seraya diriku yang masih menggatung di
Oh iya! Ada Hilmi dan Pukat mereka itu atas pohon ini. Kakiku ditarik keras oleh salah
laki-laki pasti bisa memanjat dan satu bocah nakal itu. Tidak ada waktu untuk
mengembalikan sarang burung itu. Belum saja menahan, diriku terjatuh. Perih.
aku perintahkan mereka, kedua orang itu
sudah lari terbirit-birit menjauh. Kalau sudah
seperti ini, siapa lagi yang bisa diandalkan? Aku
lagi.. aku lagi.. Tersisa Lulu yang ada di sini, tapi
tangannya patah karena insiden kemarin sore.

