Page 34 - MUHA MAGAZINE #1
P. 34
Di tempat yang sama. Dan pohon yang sama Tamparan keras mendarat di pipiku.
pula kutemui mereka lagi, namun kali dengan Panas dan perih. Tamparan ini dari kumpulan
burung yang berbeda. Tetapi kali ini ia sendiri, warga yang sedang ingin membelanya.
sama sepertiku. Sarangnya lagi-lagi ditinggalkan Sebagian warga terdiam. Tak menyangka
oleh induknya. Sendirian dan kedinginan. pertengkaran ini sampai sebegini parahya.
Walaupun waktu sudah berlalu, jiwa empatiku Aku terjatuh lemas. Sedang memikirkan
tetap tersisa di sini. Kali ini aku bertekad untuk kembali, sebenarnya apa yang sedang terjadi.
mengembalikkan sarang itu ke tempat yang “Bagaimana perempuan ini menyebu dirinya
lebih tinggi, lebih aman pula. Tapi sekarang korban? Kalau tidak ada tanda-tanda
tersisa aku sendiri. Tidak ada Lulu, maupun Pukat kekerasan. Jelas-jelas perempuan ini adalah
dan Hilmi menemani. Sembari mengelus- pelaku!”
elus burung yang sendu itu, aku mencari celah “Mas apakah lukamu disebabkan wanita
pohon yang tepat untuk menaruhnya nanti. ini?” “Benar Pak! Ia melukaiku dengan kayu
Dari kejauhan terdengar suara kendaraan runcing dan hampir membunuhku”
yang sedang berjalan. Berlalu-lalang dan “Mari kita hukum saja perempuan gila ini!!!”
menciptakan kebisingan. Dari banyaknya Tanganku diseret kasar. Genggamannya tidak
kendaraan itu, samar-samar ada yang suaranya manusiawi. Aku di bawa pergi untuk di adili.
mulai mendekat. Ternyata ada yang Aku kehilangan akal kesadaran. Mengapa
menghampiriku. Orang asing, tapi mungkin dia tidak ada yang membelaku? Mengapa tidak
punya niat baik? Entahlah. Lantas ia bertanya, ada orang waras di sini? Mengapa tidak ada
sedang apa aku di sini. Kuceritakan dengan rinci yang menjaga harga diriku? Mengapa?
tentang burung yang terjatuh. Ia merengek Besi yang berat terikat di pergelangan
kehausan, aku bingung harus memberi apa. tangaku. Amukan para warga. Dan senyum
Di tanah ini, semuanya gersang. Air pun sumringai terdapat jelas di mukanya sang
langka di sini Lelaki itu memperkenalkan dirinya biadap. Diriku di sini tidak bisa lagi
kepadaku, Ridho namanya. Ia menjelaskan menyuarakan hak yang asasi. Aku kalah
padaku bahwa ia paham soal dunia burung. dengan pelaku, aku kalah menjadi
Segala tetek-bengek burung ia jago perempuan yang melawan..
menguasainya. Muka sumringah muncul Jangan! Jangan dirusak. Jangan disakiti. Harus
seketika. Kurasa aku menemukan orang yang dilindungi.
cocok untuk menjaga burung kecil ini. Ia
menawarkan kepadaku bagaimana kalau kita
beri makan dulu burung malang ini lalu kita
kembalikan sangkarnya kepada semula. Tanpa
pikiran yang panjang aku langsung setuju
dengan idenya.
Agaknya kita sama-sama punya tujuan yang
sama untuk burung ini. Lalu ku bertanya
padanya, dimana segala alat tempur yang ia
punya? Ridho berkata itu semua ada di
rumahnya, di dalam hutan yang tak jauh dari sini.
Awalnya aku ragu, aku takut kalau burung
ini keburu mati di tengah perjalanan.

