Page 33 - MUHA MAGAZINE #1
P. 33

Segala  tetek-bengek  burung  ia  jago                         Sekarang  nasibku  dan  burung  ini  benar-
         menguasainya.     Muka    sumringah     muncul         benar  sama.  Kita  sama-sama  sendirian  dan
         seketika.  Kurasa  aku  menemukan  orang  yang         menjadi  korban.  Tergesa-gesa  aku  keluar  dari
         cocok  untuk  menjaga  burung  kecil  ini.  Ia         rumah  itu.  Langkah  yang  masih  kebingungan
         menawarkan  kepadaku  bagaimana  kalau  kita           dan  tangan  bergetaran.  Aku  paksakan  lari
         beri  makan  dulu  burung  malang  ini  lalu  kita     sejauh  yang  aku  bisa.  Sialnya  rumah  ini  benar-
         kembalikan  sangkarnya  kepada  semula.  Tanpa         benar  besar.  Diriku  bingung  akan  menuju
         pikiran  yang  panjang  aku  langsung  setuju          kemana. Hilang arah dan tidak ada petunjuk.
         dengan idenya.                                           Lari.  Lari.  Kemana  saja  yang  penting  lari.  Aku
                Agaknya kita sama-sama punya tujuan yang        harus  mencari  pertolongan.  Aku  telah  menjadi
         sama  untuk  burung  ini.  Lalu  ku  bertanya          korban. Tak jauh aku lari aku sudah mendengar
         padanya,  dimana  segala  alat  tempur  yang  ia       teriakan keras dari laki-laki itu. Ia ternyata masih
         punya?  Ridho  berkata  itu  semua  ada  di            bisa  bangun  dan  sadar  walau  lukanya  penuh
         rumahnya,  di  dalam  hutan  yang  tak  jauh  dari     dengan     tetesan   kental   berwarna    merah.
         sini. Awalnya aku ragu, aku takut kalau burung         Tenaganya     masih    sangat    banyak    walau
         ini keburu mati di tengah perjalanan.                  kehilangan banyak darah.
          Dari kejauhan terdengar suara kendaraan yang                 Ia mengejarku dengan cepat. Kakinya bak
         sedang      berjalan.    Berlalu-lalang     dan        pelari  internasional.  Sangat  cepat.  Panik.  Aku
         menciptakan     kebisingan.   Dari   banyaknya         makin  tak  karuan  arah  dalam  berlari.  Dengan
         kendaraan itu, samar-samar ada yang suaranya           mata  sayu-sayu,  aku  lihat  pemukiman  warga
         mulai    mendekat.     Ternyata     ada    yang        yang  ada  di  depan  mata.  Untuk  kali  ini  aku
         menghampiriku. Orang asing, tapi mungkin dia           paksakan  kakiku  bergerak  lagi.  Aku  tahan  luka
         punya  niat  baik?  Entahlah.  Lantas  ia  bertanya,   di   masa    lalu.      Aku   paksakan     untuk
         sedang apa aku di sini.                                mendapatkan  suaraku.  “Tolong!  Tolong  saya.
                 Sisa-sisa  tenaga  yang  tak  lagi  ada.  Aku  Saya di lukai!” Di belakang terdengar suara yang
         hamtamkan kayu di kepala pelaku ini dengan             lebih  ramai.  Bising.  Ternyata  itu  lelaki  keparat
         penuh dendam. Aku tak bisa lagi memberi kata           yang  datang  dengan  penuh  luka.  Ia  juga
         ampun. Adanya perlawan dariku membuat                  mencari  pertolongan  di  dalam  warga  desa.
         luka  robek  yang  cukup  dalam  di  pelipisnya.  Ia   Diriku datang dengan terlontang-lanting untuk
         terkecoh. Pandangannya teralihkan. Ini waktu           menjelaskan  kebenarannya.  Nyatanya  palsu.
         yang  cukup  untuk  kabur  secepat  dan  sejauh        Aku  tidak  punya  cukup  bukti  bahwa  akulah
         mungkin. Tak lupa aku rebut kembali burung             yang  sesungguhnya  menjadi  korban.  Bukan
         yang ada bersamaku sedari tadi.                        dirinya.  “Wanita  gila  ini  merobek  kepalaku.
                                                                Tolong aku bapak ibuk!”
                                                                “Jangan  percaya  dia!  Saya  korban  yang
                                                                sesungguhnya! Plak!
                                                                              Daun  pintu  berbunyi  kencang.  Bergegas
                                                                aku teliti. Kudengar suara yang sama. Tak
                                                                asing.  Tangisan  dari  burung  yang  pernahku
                                                                kenali.  Lamat-lamat  suara  itu  muncul,  lalu
                                                                hilang.  Aku  seperti  diberi  teka-teki  dimana
                                                                sumber  suara  itu.  Kepalaku  celingak-celinguk
                                                                mencari  kebingungan.  Menulusuri  kesunyian
                                                                untuk mendengarkan dengan jelas tangisan itu
                                                                lagi. Setelah kutelusuri.
   28   29   30   31   32   33   34   35   36   37   38