Page 29 - MUHA MAGAZINE #1
P. 29
“Mimpi di kejar wayang, aku, Mas.” Aku Tanganku perlahan mulai memainkan
mengusap kasar wajahku. Mas Dino menahan wayang tersebut mengikuti arahan bapak.
tawanya, “Coba ceritakan!” Tanpa sadar, hatiku terasa sedikit tenang,
Aku menggeleng, “Malas. Mana bapak, Mas?” seperti tidak ada yang mengganggu. Lambat-
Sedari tadi aku belum mendengar suara bapak. laun aku mulai hanyut dalam permainan
Mataku melirik ke balik pintu kamar mencari wayang ini.
keberadaan bapak. “Biasa, sudah main wayang Bapak diam-diam memperhatikanku
lagi di sanggar.” sambil tersenyum. Mas Dino yang sedari tadi
Aku segera bangkit dari duduk dan segera hanya diam juga ikut senang memperhatikan
pergi ke sanggar bapak. Tentu saja aku menarik interaksi ku dengan
paksa Mas Dino agar mau mengikutiku kesana. bapak.
Sampai disana, mataku membelalak tak Akhirnya permainan wayangku sudah
percaya. Wayang yang semalam ada di dalam selesai. Aku menaruh wayang tersebut dan
mimpiku kini berada tepat di hadapanku menatap bapak sambil tersenyum lebar, “Pak,
sedang dimainkan oleh bapak. Lalu terlintas tolong ajari Raja cara bermain wayang yang
sebuah pemikiran di benakku, Apa wayang itu baik, agar bisa juara satu! Mulai sekarang Raja
menyuruhku untuk serius berlatih, ya? Aku akan mengikuti arahan bapak dengan patuh!”
mulai mendekati bapak dan duduk di Ucapku dengan serius. Sekarang aku sadar,
sampingnya. “Maafin raja ya, Pak. Semalam Raja bahwa budaya meninggalkan jejak yang sangat
kelepasan marah sama bapak” Ucapku. Bapak mendalam dalam diri kita. Hanya saja kita yang
tersenyum sambil menyodorkan wayang yang belum paham pesan-pesan yang terkandung di
dia pegang, “Iya, Nduk. Sudah dalamnya. Oleh karena itu, kita sebagai
bapak maafkan.” generasi muda seharusnya terus mempelajari
“Coba sekarang kamu mainkan wayang ini” dan melestarikan budaya Indonesia dengan
Lanjutnya. Tangan ku sedikit gemetar ketika penuh semangat dan rasa bangga tanpa ada
menerima wayang tersebut dari tangan bapak. nya tekanan dan rasa malu dalam proses
Ini kan wayang yang semalam. Batinku mempelajarinya.
dalam hati.

