Page 25 - MUHA MAGAZINE #1
P. 25
Ruang Talenta
Bisikan Pasti karena aku adalah anak dari dalang yang
Lembut mahsyur di daerah ini. Awalnya aku ingin menolak
tawaran dari Bu Fitri. Tapi, melihat beliau sangat
mengharapkanku, membuat aku berpikir dua kali
dari Sebuah dan akhirnya menjawab, “Oke. Baik Bu. Raja mau.”
Pikiranku jadi sedikit kacau karena distraksi dari Bu
Fitri barusan. Langkahku menjadi sedikit hilang arah,
Wayang lupa harus pergi kemana. Sampai akhirnya, aku
berhenti tepat di pintu coklat bertuliskan ruang
musik. Ku genggam daun pintu itu, berhenti sejenak,
dan baru membukanya.
Aroma khas ruang musik mulai dirasakan oleh
Oleh Kun Fatin Resendriya Mumtaz indra penciumanku. Semburan angin yang dingin
dan lampu ruangan yang sedikit gelap membuat
atmosfer sedikit mencekam. Mulai ku pegang stik
Mataku terus melirik ke jarum jam dinding drum yang terjatuh di lantai. Jari-jemariku
yang ada di atas papan tulis. Tas ransel memainkannya perlahan sambil memukul drum
yang ada di hadapanku. Memori lama seketika
berwarna biru tua sudah bertengger di pundak muncul di benakku. Raja kecil yang gemar bermain
kananku. 10 menit rasanya sangat lama ketika drum mainan yang dibelikan ibu pada hari ulang
ditunggu, seolah-olah dunia berjalan dengan tahunnya. Senyumnya saat itu sangat lebar, seakan
perlahan. Aku sudah tak sabar untuk pulang menikmati tiap detiknya.
sekolah, sedangkan Pak Ibnu masih asyik Dahulu, aku pernah sebahagia itu. Mimpi untuk
menulis berbagai rumus fisika yang tidak ku menjadi drummer terkenal adalah mimpi yang
mengerti di papan tulis. “Kring....Kring....” Bel paling ingin aku capai. Namun, mimipi itu harus
sekolah berbunyi tepat pada pukul tiga sore. dikubur rapat, saat bapak memutuskan semua
anaknya harus terjun di dunia per-wayangan. Mas
Aku langsung berdiri dari tempat duduk dan Dino, anak pertama di keluargaku, sudah
bergegas pergi meninggalkan kelas. Langkah menjalankan tugas itu. Berbagai perlombaan dan
cepat, mata fokus ke depan, dan earphone di pementasan sudah dia ikuti dan juarai. Maka dari itu,
kedua telinga. Fokusku hanya untuk segera aku selalu menganggap bahwa Mas Dino adalah
mencapai ruang musik. anak kesayangan Bapak. Mbak Kia, satu satunya
Ketika sedang berjalan, tanpa sadar ada anak perempuan di keluargaku, bahkan merelakan
yang menepuk pundak kananku. mimpinya untuk menjadi pelukis terkenal dan
“Raja!” Aku menoleh sambil mematikan musik memutuskan untuk membantu bapak membuat
mempersiapkan
wayang
ataupun
membantu
yang terputar dari ponselku. “Ada apa, ya, Bu?” pertunjukan, seperti menyiapkan kostum.
Bu Fitri memandangku dengan senyum
giginya bak model iklan pasta gigi. “Raja, Ibu
ada kabar baik untuk kamu.” Ucapnya.
“Kabar apa, Bu?” Dahiku mengkerut, alisku
mengangkat satu.
Selembar brosur diambil dari tas
selempangnya, “Ada tawaran lomba wayang
dari sekolah. Raja terpilih sebagai
perwakilannya.” Mataku membelalak kaget,
“Kenapa saya, Bu? Kan masih ada anak-anak
yang lain.”
Bu Fitri menjelaskan panjang kali lebar
alasannya memilihku sebagai perwakilan
lomba wayang dar perspektifnya sebagai guru
kesenian. Katanya, selain suaraku bagus untuk
mendalang, dia melihat ada potensi dari dalam
diriku. Tapi selain itu, aku tahu pasti apa yang
membuat beliau memilihku sebagai
perwakilan. Bapak.

