Page 28 - MUHA MAGAZINE #1
P. 28

Aku berjalan mundur perlahan sedangkan                      Gayung  berisi  air  itu  ditumpahkan  ke
         wayang  itu  mempercepat  jalannnya.  Aku              wajahku.  Aku  langsung  bangkit  dari  tidurku
         segera  berbalik  arah  dan  berlari  secepat          dengan  terkejut.  “Wayang!  Tadi  ada  wayang
         mungkin.  Keringatku  sudah  mulai  bercucuran,        besar!”  Ucapku  dengan  panik.  Mas  Dino
         aku  terus  berlari  tanpa  melihat  ke  arah          memegang gayung sambil menatapku heran.
         belakang.                                              “Wayang  apa  sih,  Ja?”  “Bangun!  Sudah  jam
               Dug!  Aku  menabrak  sesuatu.  Wayang            berapa  ini?  Kamu  tidak  sekolah?”  Mataku
         berukuran  sangat  besar  berada  di  depanku.         membelalak  sambil  menacari  keberadaan
         Aku  jatuh  tersungkur.  Apa-apaan  ini?  Aku          ponselku. Pukul sembilan lebih lima.
         mengacak  rambut,  frustasi  dengan  kejadian                        Celaka,  aku  terlambat!  Aku  langsung
         yang  menimpaku.  Wayang  tersebut  tiba-tiba          beranjak  bangkit  dari  kasur  dan  mengambil
         mengeluarkan     suara    berbisik.   “Lestarikan      handukku,
         budaya, tidak perlu malu dengan budaya, kamu           melupakan  bahwa  masih  ada  Mas  Dino  yang
         adalah penerus nya”                                    memperhatikan  kepanikanku.  “Yaudah,  keluar
                     Wayang  itu  berbicara  dalam  bahasa  jawa  sana,   Mas!    Aku     buru-buru!”    Usirku
         dengan  aksen  kental  dan  hanya  mengulang-          menggunakan  handuk.  Mas  Dino  tertawa
         ulang  perkataanya.  Aku  memejamkan  mata             terbahak-bahak  sambil  memegang  perutnya.
         sebentar berharap semua ini hanyalah mimpi.            “Hahahaha, Panik kau, Ja!” “Sekarang libur, kau
         Ketika  ku  buka  lagi,  wayang  besar  itu  hilang.   sudah  lupa  hari,  kah?”  Aku  menyalakan
         Aku menoleh ke kanan dan ke kiri, memastikan           ponselku  dan  membaca  kalender.  Hari  sabtu.
         wayang  itu  sudah  tidak  ada  lagi.  Aku  mulai      Aku memutar bola mataku malas. Bodoh kau,
         berdiri  dan  melanjutkan  berlari  lagi  mencari      Ja!  Aku  melempar  handukku  ke  wajah  Mas
         jalan  keluar.  Tiba-tiba  aku  merasakan  wajahku     Dino dan kembali duduk di pinggiran ranjang.
         basah. Byur!                                           “Mimpi buruk kah kamu, semalam?” Tanya Mas
                                                                Dino.
   23   24   25   26   27   28   29   30   31   32   33