Page 32 - MUHA MAGAZINE #1
P. 32
Sesampainya di rumah, aku tak menyangka Daun pintu berbunyi kencang. Bergegas
rumahnya benar-benar besar dan luas. aku teliti. Kudengar suara yang sama. Tak
Lingkungan di sekitar rumahnya sangat asing. Tangisan dari burung yang pernahku
terjaga. Pohonnya tumbuh lebat dan terdengar kenali. Lamat-lamat suara itu muncul, lalu
merdu kicauan aneka burung. Sahdu dan hilang.
sangat menenangkan. Aku bertanya dengan Aku seperti diberi teka-teki dimana sumber
Ridho, dimana alat-alat yang kamu jelaskan suara itu. Kepalaku celingak-celinguk mencari
kepadaku tadi? “Hei Nina! Masuklah ke dalam. kebingungan. Menulusuri kesunyian untuk
Di rumahku surga untuk burung mungilmu itu” mendengarkan dengan jelas tangisan itu lagi.
Dengan ragu aku langkahkan kakiku. Sunyi. Setelah kutelusuri. Di tempat yang sama. Dan
Hawa rumah ini seperti tidak ditinggali cukup pohon yang sama pula kutemui mereka lagi,
lama. Lampunya saja kelap-kelip. Seperti tidak namun kali dengan burung yang berbeda.
pernah diganti. Untungnya ini siang hari, masih Tetapi kali ini ia sendiri, sama sepertiku.
ada baskara yang siap menyinari. Ia Sarangnya lagi-lagi ditinggalkan oleh
mengajakku ke ruangan yang masuk dan induknya.
menjorok ke belakang. Katanya disitu alat Sendirian dan kedinginan. Walaupun waktu
tempur yang ia gunakan untuk merawat sudah berlalu, jiwa empatiku tetap tersisa di
burung- burungnya. sini. Kali ini aku bertekad untuk
Ridho masuk dan menyalakan lampu di mengembalikkan sarang itu ke tempat yang
ruang asing itu. Tangannya melambai seperti lebih tinggi, lebih aman pula. Tapi sekarang
memberi isyarat segera masuk ke ruangan itu. tersisa aku sendiri. Tidak ada Lulu, maupun
Masih dengan tetap aku dekap burungku Pukat dan Hilmi menemani. Sembari
dengan erat. Masuknya aku ke dalam, Ridho mengelus- elus burung yang sendu itu, aku
dengan tangkas menutup pintu tersebut. mencari celah pohon yang tepat untuk
Tanpa aba-aba ia langsung menjatuhkanku ke menaruhnya nanti.
dalam. Tidak ada persiapan aku kehilangan Kuceritakan dengan rinci tentang burung
kendali. Aku jatuh ke dalam keinginannya. Di yang terjatuh. Ia merengek kehausan, aku
lahapnya aku dengan penuh sahwat. Sungguh bingung harus memberi apa. Di tanah ini,
kejam dan keji. Aku tidak bisa bergerak. Sangat semuanya gersang. Air pun langka di sini Lelaki
hina. itu memperkenalkan dirinya kepadaku, Ridho
Di kuasainya tubuh ini dengan semena- namanya. Ia menjelaskan padaku bahwa ia
mena Bagaimana aku bisa membalas? Burung paham soal dunia burung.
di dekapanku saja sudah turut jatuh bersamaku
tadi. Dengan tangan yang meraba-raba aku
coba mencari. Mencari benda apapun di
sekitarkuAda kayu di sini, tetapi kayu ini tak
cukup mampu untuk melindungiku. Kecil dan
sepertinya mudah patah untuk sekali pukul.
Tapi tetap saja akan aku lakukan.

