Page 35 - MUHA MAGAZINE #1
P. 35
Ruang Talenta
Lentara Sajak di
Pelataran Putih
Oleh Raisa Fadhila
Aku melangkah menuju pusat riuh Di hadapan bangunan putih
kepalaku berputar, bertanya Angin menerbangkan secarik aksara
tanpa latar mereka menyatu Lorong lorong terisi riuh gamelan
Berseri indah warnaku Langkah memahami tiap insan yang bertanya
campuran tidak menjadi buruk Terdengar bisikan pasir terbawa dengan penuh
tangan bergantengan tanpa melihat warna wibawa
Merayakan kemenangan kecil dengan suka cita
Aku berdiri diantara dua pohon bersautan
Ruang kosong terasa kenyang tanpa suara Berbisik padaku tentang tunas pengetahuan dalam
Rata terasa dengan tawa keheningan
memberi Peduli pada setiap insan
Semut kecil memeluk gunung Di iringi alunan yang semakin merasuki kalbu
Masyarakat berbondong bondong membuka tangan
Pikiranku bepindah khayal Ucap terima kasih kepada sang jagat
Bukan tentang bangunan megah
Bukan juga rumah anyam- Mega tersenyum menatap rakyatnya
Tangan-tangan terulur menguatkan Bahu bahu memikul hasil bumi
Tidak ada beban terasa rata Menyebar dalam lorong - lorong kesedihan
Keluasaan hati menatap tawa Memberi arti penuh dalam kehidupan
Berharap jagat selalu berbahagia
Kini aku harus membawa cakrawala masa depan
Bekal terbawa hingga tiada Aku bergeser kearah perjamuan
Syukurku serahkan pada pemilik tanpa ragi Suasana tawa tanpa henti memeluk bahagia
Lapang dada terus tertancap Duduk setara tanpa latar sendu
Tanpa latar,tanpa nama, kita keluarga Manis asin gurih melebur melengkapi ruang kosong
Berpadu tenang relung jiwa

