Page 31 - MUHA MAGAZINE #1
P. 31

Sakit.  Kudapati  luka  robek  yang  terlukis  di            Di  tanah  ini,  semuanya  gersang.  Air  pun
         pergelagan  kakiku.  Mereka  yang  panik  lantas       langka  di  sini  Lelaki  itu  memperkenalkan
         kabur  meninggalkanku  dengan  luka.  Lulu             dirinya    kepadaku,    Ridho     namanya.     Ia
         menangis.  Ngilu  katanya  tak  kuasa  melihat         menjelaskan  padaku  bahwa  ia  paham  soal
         kakiku   yang    bersimbah-darah.     Bukannya         dunia  burung.  Segala  tetek-bengek  burung  ia
         menangis  aku  malah  tambah  jengkel  dengan          jago  menguasainya.  Muka  sumringah  muncul
         lelaki itu. Bisa- bisanya aku diperlakukan seperti     seketika.  Kurasa  aku  menemukan  orang  yang
         ini. Memangnya aku perempuan lemah?                    cocok  untuk  menjaga  burung  kecil  ini.  Ia
           Daun  pintu  berbunyi  kencang.  Bergegas  aku       menawarkan  kepadaku  bagaimana  kalau  kita
         teliti.  Kudengar  suara  yang  sama.  Tak  asing.     beri  makan  dulu  burung  malang  ini  lalu  kita
         Tangisan  dari  burung  yang  pernahku  kenali.        kembalikan  sangkarnya  kepada  semula.  Tanpa
         Lamat-lamat suara itu muncul, lalu hilang. Aku         pikiran  yang  panjang  aku  langsung  setuju
         seperti  diberi  teka-teki  dimana  sumber  suara      dengan idenya. Agaknya kita sama-sama punya
         itu.   Kepalaku   celingak-celinguk     mencari        tujuan  yang  sama  untuk  burung  ini.  Lalu  ku
         kebingungan.  Menulusuri  kesunyian  untuk             bertanya  padanya,  dimana  segala  alat  tempur
         mendengarkan  dengan  jelas  tangisan  itu  lagi.      yang ia punya?
         Setelah  kutelusuri.  Di  tempat  yang  sama.  Dan                Ridho berkata itu semua ada di rumahnya,
         pohon  yang  sama  pula  kutemui  mereka  lagi,        di dalam hutan yang tak jauh dari sini. Awalnya
         namun  kali  dengan  burung  yang  berbeda.            aku  ragu,  aku  takut  kalau  burung  ini  keburu
         Tetapi kali ini ia sendiri, sama sepertiku.            mati  di  tengah  perjalanan.  Dia  memberikan
               Sarangnya  lagi-lagi  ditinggalkan  oleh         petuah, jika aku ingin burungnya tetap selamat
         induknya. Sendirian dan kedinginan. Walaupun           maka  kita  harus  cepat-cepat.  Tanpa  ragu  ia
         waktu  sudah  berlalu,  jiwa  empatiku  tetap          mengajakku  untuk  segera  naik  ke  bangku
         tersisa  di  sini.  Kali  ini  aku  bertekad  untuk    belakang yang kosong itu.
         mengembalikkan  sarang  itu  ke  tempat  yang                Di  tengah  jalan  aku  tetap  menjaga
         lebih tinggi, lebih aman pula. Tapi sekarang           burungnya. Aku dekap hangat-hangat. Takut ia
         tersisa  aku  sendiri.  Tidak  ada  Lulu,  maupun      kedinginan atau terbang terbawa angin. Tak ku
         Pukat    dan    Hilmi    menemani.     Sembari         sangka  jalan  yang  ia  lewati  penuh  dengan
         mengelus-  elus  burung  yang  sendu  itu,  aku        tantangan. Banyak batu besar yang berserakan
         mencari  celah  pohon  yang  tepat  untuk              di  jalanan,  ada  juga  tanjakan  yang  sama
         menaruhnya nanti.                                      ngerinya  seperti  Gunung  Rinjani.  Di  jalanan
                   Dari  kejauhan  terdengar  suara  kendaraan  yang  berlubang  ia  menarik  tanganku  untuk
         yang sedang berjalan. Berlalu-lalang dan               berusaha memeluknya. Tegas aku menolaknya,
         menciptakan     kebisingan.   Dari   banyaknya         namun ia masih saja berusaha.
         kendaraan itu, samar-samar ada yang suaranya
         mulai    mendekat.     Ternyata     ada    yang
         menghampiriku. Orang asing, tapi mungkin dia
         punya  niat  baik?  Entahlah.  Lantas  ia  bertanya,
         sedang  apa  aku  di  sini.  Kuceritakan  dengan
         rinci   tentang   burung   yang    terjatuh.   Ia
         merengek  kehausan,  aku  bingung  harus
         memberi apa.
   26   27   28   29   30   31   32   33   34   35   36