Page 26 - MUHA MAGAZINE #1
P. 26

Dan  tibalah  giliranku,  anak  terakhir  yang      Ucapku  sebelum  bapak  menyelesaikan
         sedikit  membangkang  di  keluarga.  Bapak             kalimatnya.  Aku  sudah  hafal  betul  apa  yang
         selalu menyuruhku untuk mengikuti latihan di           akan keluar dari mulut beliau.
         sanggar  milik  bapak.  Tapi,  aku  selalu  menolak.   Bapak     memang      sedikit   sensitif   ketika
         Alasannya  klise,  aku  tidak  merasa  cocok           mengetahui  aku  kembali  bermain  drum.
         memainkan  wayang.  Kedua  kakakku  tidak              Alasannya  adalah  karena  beliau  tidak  terlalu
         pernah  memaksakan  pilihanku  ketika  aku             suka  ketika  anak  anaknya  menjadi  anggota
         berkata  ingin  menjadi  drummer  di  sebuah           grup  musik  atau  band.  Maka  dari  itu,  beliau
         grup musik.                                            memutuskan  semua  anaknya  harus  mewarisi
                 Namun,  lagi-lagi,  pilihan  terakhir  ada  di  kesenian wayang yang ia tekuni dari lama.
         tangan  bapak.  Hari  sudah  mulai  sore  ketika       Hari  demi  hari  ku  lalui  hanya  dengan  bangun
         langit  sudah  mulai  memunculkan  warna               tidur, berangkat sekolah, belajar, tidur.
         jingganya. Matahari sudah mulai terbenam dan           Padahal  seminggu  lagi  lomba  wayang  akan
         sekolah  sudah  mulai  sepi  penghuni.  Aku            segera  dimulai.  Bapak  yang  melihat  anaknya
         berjalan   menuju    ke   area   parkir   untuk        tidak   kunjung     berlatih   akhirnya    mulai
         mengambil motor dan bergegas untuk pulang              memarahiku.
         sebelum hari semakin gelap.                                      “Mau sampai kapan kayak gini, Ja?”
               “Assalamualaikum,  Raja  sudah  pulang.”         Aku  hanya  memutar  bola  mataku  malas  dan
         Ucapku  ketika  memasuki  rumah.  Bapak                kembali berkutat dengan ponsel.
         sedang  duduk  di  ruang  keluarga  sambil             “Raja! Dengarkan kalau bapak lagi berbicara!”
         menonton      serial   sinetron   kesukaannya,         Aku  bangun  dari  posisi  ku  yang  sebelumnya
         sedangkan  Mas  Dino  dan  Mbak  Kia  sedang           dan duduk di pinggiran ranjang.
         berbincang        di       sebelah       bapak.        “Dari awal, Raja memang tidak pernah tertarik
         “Waalaikumsalam.”                                      untuk ikut lomba, Pak!” Nada bicaraku
                  “Bagaimana sekolahnya, Ja? Aman?” Tanya       naik satu oktaf dibanding biasanya. Raut wajah
         Mbak Kia sambil mengunyah kastangel                    bapak menjadi lebih emosi.
         buatannya  sendiri.  Aku  menaruh  tas  asal  dan      “Lagian, Raja ikut hanya untuk ambil perhatian
         duduk di samping Mas Dino.                             bapak!  Selama  ini  kan  bapak  hanya  peduli
         “Aman,  Mbak.”  Mas  Dino  memijat  pundakku           sama  Mas  Dino  dan  Mbak  Kia.”  Mataku  mulai
         sambil berkata, “Tumben, pulang sore banget?”          terasa panas, kelopak mataku sudah berlinang
         Aku  memejamkan  mata  bersiap  untuk  tidur           air mata.
         karena  pijatan  Mas  Dino.  “Iya,  tadi  mampir
         ruang  musik  sebentar.”  Bapak  menoleh  ke
         arahku ketika ia mendengar kata ruang musik
         keluar dari mulutku, “Kamu masih mai—“
         “Raja  dapat  tawaran  lomba  main  wayang  di
         sekolah.”
   21   22   23   24   25   26   27   28   29   30   31