Page 38 - MUHA MAGAZINE #1
P. 38

Sejarah
                                                                      Jika kita menyingkap tirai tersebut, kita akan
                                                                menemukan  perspektif  yang  lebih  benderang
         Simbolisme 2 Mei                                       berbasis    data    institusional.   Tulisan   ini
                                                                bermaksud  membuka  wawasan  mengapa
         dan Akselerasi                                         negara lebih terpikat pada simbolisme daripada
                                                                efisiensi sistemik.
         Modernitas                                                    Sejarah, di tangan penguasa, sering menjadi
                                                                pahat  untuk  membentuk  identitas  kolektif.
                                                                Kritik  ini  tentunya  dilayangkan  agar  kontribusi
         Pendidikan                                             raksasa  KH  Ahmad  Dahlan  tidak  sekadar
                                                                menjadi catatan kaki, melainkan mendapatkan
         Muhammadiyah                                           tempat yang adil dalam ruang ingatan bangsa.
                                                                Melalui  biografi  KH  Ahmad  Dahlan  yang
                                                                diterbitkan   Kemendikbud,     kita   mendapati
         Oleh Ebma Yudhasatria                                  struktur  madrasah  pertama  di  Kauman  yang
                                                                visioner.  Diperkuat  dengan  analisis  Artawijaya
                                                                (2011),  kita  melihat  bagaimana  kedua  tokoh
               Fakta sejarah sering kali menyimpan rahasia      besar  ini  beradu  metode,  semvuanya  menjadi
         di balik tirai kebijakan. Terdapat alasan filosofis    fondasi  kokoh  untuk  membangun  argumen
         yang  kuat  mengapa  tanggal  2  Mei  dipilih          yang objektif di tengah pusaran sejarah. Secara
         sebagai  jangkar  Hari  Pendidikan  Nasional,          teknis,  napas  pendidikan  yang  ditiupkan  KH
         meski di saat yang sama, Muhammadiyah telah            Ahmad  Dahlan  telah  melampaui  zamannya,
         melesat  jauh  lebih  kencang  secara  sistemik.       jauh  meninggalkan  Taman  Siswa  dalam  hal
         Pemerintah  Indonesia  kala  itu  bak  seorang         akselerasi  modernitas.  Sejak  1912,  Kiai  Dahlan
         pelukis yang membutuhkan figur sentral untuk           telah  mengakrabkan  santrinya  dengan  meja,
         menyatukan  warna-warna  bangsa  melalui               kursi,  dan  kurikulum  sains  modern—sebuah
         kanvas kebudayaan.                                     lompatan kuantum di masa itu.
               Ki  Hadjar  Dewantara,  bangsawan  yang                Keterikatan  Muhammadiyah  yang  kuat
         menanggalkan  gelarnya  demi  dekat  dengan            dengan  identitas  Islam  membuat  pemerintah
         masyarakat, menjadi citra pahlawan yang puitis         didera kekhawatiran akan munculnya segregasi
         sekaligus  ideal  bagi  narasi  nasionalis-sekuler.    ideologis.  Negara  akhirnya  memilih  Taman
         Filosofi Ing Ngarsa Sung Tuladha pun dipahat           Siswa sebagai "wajah nasional" karena dianggap
         sebagai  sukma  kurikulum  nasional,  sebuah           lebih  netral  secara  religius.  Di  sini,  kita  melihat
         kearifan  lokal  yang  dianggap  paling  mampu         kontras  yang  nyata.  Taman  Siswa  memberikan
         merangkul  keberagaman.  Penulisan  sejarah            dampak      melalui    kedalaman     simbolisme
         pendidikan  kita  juga  acap  kali  terbius  dalam     filosofis.    Muhammadiyah          memberikan
         romantisme  tokoh  tunggal.  Narasi  resmi             hantaman  nyata  melalui  kemajuan  fisik  dan
         negara  cenderung  mengagungkan  2  Mei                penguasaan  aset  yang  mendominasi  hingga
         sebagai  mercusuar  tunggal  melalui  sosok  Ki        detik ini.
         Hadjar Dewantara.
   33   34   35   36   37   38   39   40   41   42   43