Page 43 - MUHA MAGAZINE #1
P. 43

Saat  saya  bertanya  tentang  bagaimana  beliau         Dengan  perlahan  waktu  merapikan  segala
         membagi     waktu    sekaligus   mengingatkan            yang  semula  terasa  asing.  Hubungan  yang
         anak-anak    asrama    terhadap    tugas    dan          awalnya     canggung      berubah      menjadi
         kewajibannya,  beliau  pun  menuturkan  “Kalau           kedekatan  yang  tumbuh  pelan-pelan  melalui
         dalam ibadah, biasanya muter ke kamar anak-              kebersamaan  sehari-  hari.  “Yang  pasti  dijalani
         anak untuk                                               sesuai  porsinya,  dan  bisa  mendahulukan
         mengajak  salat  berjamaah.  Kalau  belajar,             mana  yang  kiranya  urgent.  Alhamdulillah
         memberi semangat ke mereka supaya                        sejauh   ini   aman-aman     saja   melakukan
         jangan  lupa  tugas-tugas  dikerjakan  dan  terus        semuanya  secara  bersamaan.”  ujarnya.  Setiap
         berusaha agar bisa masuk PTN impian.” Dalam              tutur  yang  terucap,  saya  mulai  memahami
         perjalanan  hidup  itu  tak  selalu  berjalan  mulus.    bahwa di balik peran yang tampak sederhana,
         Dengan dinamika yang datang dari perbedaan               tersimpan  ketekunan  yang  jarang  tersorot,
         latar  belakang  dan  lingkungan  yang  harus            tentang bagaimana seseorang tetap berjalan,
         dihadapi  bersama.  “Perubahan  sikap,  ibadah,          membagi waktu, dan terus hadir bagi banyak
         dan berpakaian banyak terjadi pada anak-anak             hal  yang  bahkan  ketika  dirinya  sendiri  nyaris
         yang mengalami culture shock dengan kondisi              tak memiliki jeda.
         kota   Jogja,   jadi   memang     ada    banyak
         perubahan.”  demikian,  dalam  suatu  langkah            Di  dalam  dinding  yang  sama,  perjumpaan
         mendampingi tak selalu terbentang tanpa riak.            sederhana  mempertemukan  saya  dengan
         Di  awal,  ada  kebingungan  yang  pelan-pelan           Natasya,  salah  satu  penghuni  asrama  lantai
         harus  dijinakkan,  dengan  adanya  penyesuaian          tiga  sekaligus  siswi  yang  berada  di  kelas
         yang menuntut kesabaran.                                 bimbingan  Mbak  Yulis  pada  mata  pelajaran
                                                                  matematika.  Melalui  dirinya,  saya  mencoba
         Saya   mulai   perlahan    memahami      bahwa           melihat bagaimana pandangan seorang anak
         menjadi   pembina     bukan    hanya    tentang          asrama  terhadap  sosok  pembina  yang  setiap
         menjaga  keteraturan  asrama,  tetapi  juga              hari  hadir  di  tengah  kehidupan  mereka.  Saat
         tentang  menemani  proses  penyesuaian  yang             itu,  Natasya  tampil  sederhana  dalam  balutan
         tak  selalu  berjalan  mulus,  saya  pun  bertanya       baju tidur bernuansa merah muda bercampur
         tentang  tantangan  yang  beliau  hadapi  saat           putih,  dengan  kegemaran  menonton  drama
         harus    menyeimbangkan       urusan     pribadi         Korea  serta  kekaguman  pada  para  artis  dari
         dengan  tanggung  jawab  sebagai  pembina                negeri  tersebut  yang  diam-diam  menjadi
         asrama. Lalu beliau menjawab pertanyaan yang             warna  dalam  kesehariannya.  Tawa  kecil
         saya beri, “Awalnya bingung dan agak kesulitan,          sesekali    terdengar  selama  percakapan
         tapi   seiring   berjalannya   waktu,   dengan           berlangsung.  Namun,  di  balik  riuh  yang
         pendekatan ke                                            tampak  sederhana  itu,  tersimpan  cerita  yang
         anak-anak,   Alhamdulillah    sekarang    sudah          tak   sepenuhnya      mudah      diungkapkan.
         terbiasa  dan  bisa  dekat  dengan  mereka,              “Terdapat    hal-hal    yang     sulit   untuk
         terutama  kelas  12  karena  mendampingi  sejak          diungkapkan,” tuturnya lirih.
         kelas X.”
   38   39   40   41   42   43   44   45   46   47   48