Page 44 - MUHA MAGAZINE #1
P. 44

Asrama, bagi sebagian siswi, bukan sekadar              Tidak  hanya  Natasya,  kesan  hangat
         tempat  tinggal  sementara.  Menjelma  ruang            terhadap sosok Mbak Yulis juga dirasakan oleh
         yang    dipenuhi     cerita   tentang     rindu,        penghuni  asrama  lainnya.  Afifa,  salah  satu
         penyesuaian,  dan  belajar  berdiri  sendiri  tanpa     kakak  kelas  yang  telah  saya  kenal  sejak  MTs
         banyak    bergantung      pada     siapa   pun.         dan  kini  kembali  menjadi  kakak  tingkat  saya
         Kebersamaan menjelma menjadi peneduh                    di  SMA,  turut  membagikan  pandangannya
         bagi hari-hari mereka di Asrama.                        mengenai  sosok  pembina  yang  setiap  hari
             Canda  tawa  diam-diam  bersemayam-                 hadir di tengah kehidupan anak-anak asrama.
         mengendap  di  relung  terdalam  rindu  pada            Kedekatannya       dengan       Mbak      Yulis
         rumah,  pada  suara  keluarga,  pada  hal-hal           membuatnya  cukup  memahami  bagaimana
         sederhana  yang  dahulu  terasa  biasa,  namun          beliau  menjalani  perannya  sebagai  pembina
         kini  menjelma  istimewa.  Perubahan  datang            sekaligus  pendamping  bagi  para  siswi  di
         tanpa  aba-aba,  tanpa  ruang  untuk  menawar.          asrama.
         Apa  yang  dahulu  ditata,  kini  harus  ditegakkan             Dalam pandangan para penghuni asrama,
         sendiri.  Waktu  tidur  tak  lagi  disapa  pengingat,   Mbak  Yulis  bukan  sekadar  pembina  yang
         batas  gawai  tak  lagi  dijaga  pengawasan,            menjaga  keteraturan,  melainkan  sosok  yang
         bahkan  urusan  makan  menjadi  tanggung                perlahan  tumbuh  layaknya  kakak  sendiri.  Hal
         jawab yang tak bisa dielakkan. Perlahan, segala         itu  diungkapkan  oleh  Afifa,  salah  satu  kakak
         itu  menuntun  pada  satu  kesadaran.  Hidup  tak       kelas  yang  cukup  dekat  dengan  beliau.
         selalu  menghadirkan  pengingat.  dan  tidak            Menurutnya,  Mbak  Yulis  dikenal  sebagai
         semua hal akan selalu diingatkan.                       pribadi  yang  baik  dan  bertanggung  jawab
                   Dalam  proses  itu,  peran  pembina  belum    dalam      menjalankan      tugasnya.     Afifa
         sepenuhnya mampu menjangkau seluruh                     mengatakan  bahwa  Mbak  Yulis  tidak  hanya
         kebutuhan  mereka.  Walaupun  begitu,  para             berperan  sebagai  musyrifah,  tetapi    juga
         pembina tetap menjadi tempat bersandar pada             mampu menjadi sosok layaknya kakak sendiri
         hal-hal  sederhana,  disaat  tubuh  mulai  lelah        bagi  anak-anak  asrama.  Selain  membimbing
         atau  ketika  demam  datang  diam-  diam.  Celah        dan menemani para siswi, beliau juga dikenal
         keterbatasan  itulah  kemandirian  menemukan            dekat  dengan  anak-anak  asrama  dalam
         akarnya. “Terkadang mau tidak mau harus bisa            kesehariannya.  “Aku  taunya  beliau  baik
         sendiri,”  ucap  Natasya  pelan,  jemarinya  refleks    banget, terus nemenin anak-anaknya dengan
         menggaruk  kepala  sementara  bahunya  sedikit          baik,  juga  membimbing.  Di  asrama  selain
         menekuk, seolah menyembunyikan canggung                 musyrifah,  kayak  kakak  sendiri  sama  guruku
         yang tak sempat terucap. Tangan-tangan yang             juga,”  ujarnya.  Tak  lupa  ia  menambahkan
         dahulu  terbiasa  dibantu  kini  perlahan  belajar      bahwa  Mbak  Yulis  merupakan  sosok  yang
         membasuh,  merapikan,  dan  menuntaskan                 bertanggung  jawab  terhadap  tugas-tugasnya
         segala  dengan  usahanya  sendiri.  Dari  sanalah,      sebagai pembina asrama.
         pendewasaan  pelan  yang  tumbuh,  namun
         nyata.
   39   40   41   42   43   44   45   46   47   48   49