Page 42 - MUHA MAGAZINE #1
P. 42

Profil






         Perjalanan Pembina


         Muda di Asrama

         Khodijah SMA


         Muhammadiyah 2


         Yogyakarta





         Oleh Dzulfa Shafira





                 Fajar  belum  sepenuhnya  merekah  ketika
         denyut  kehidupan  di  asrama  mulai  beringsut.
         Derap  langkah  tergesa  menggema  di  lorong-
         lorong  sempit,  mengarah  pada  kamar  mandi
         yang  perlahan  dipenuhi  antrean.  Air  mengalir
         tanpa jeda, pintu- pintu berayun silih berganti,
         sementara  sisa  kantuk  dipaksa  luruh  bersama
         dingin  yang  merayapi  pagi.  Di  sela  itu,
         panggilan  untuk  menunaikan  salat  Subuh
         menjelma  ritme  yang  menata  awal  hari.  Hari-                    “Dan  asrama  ini  telah  memberikan
         harinya  bergerak  nyaris  tanpa  jeda,  mengalir        banyak  pembelajaran  bagi  saya  untuk  masa
         dari satu peran ke peran lain, seakan waktu tak          depan  saya  ketika  menjadi  orang  tua,”
         pernah benar-benar memberinya ruang                      ujarnya.  Dari  sanalah,  perlahan  saya  mulai
         untuk berhenti.                                          menelusuri  keseharian  yang  beliau  jalani,
                 Mbak  Yulis,  atau  yang  memiliki  nama         yang  rupanya  tak  sesederhana  yang  terlihat.
         lengkap  Yulis  Ika  Wati,  lahir  di  Temanggung        Tutur  kata  yang  lembut  dan  senyum  yang
         pada   15   Juni   1999.   Beliau   menempuh             teduh,  tersimpan  rutinitas  panjang  yang
         pendidikan  S1  Pendidikan  Matematika  di               dijalani  hampir  tanpa  jeda.  “Pagi  diawali
         Universitas  Muhammadiyah  Semarang,  lalu               dengan  salat  Subuh,  beres-beres  kamar,
         melanjutkan  studi  S2  di  Universitas  Negeri          mandi, kemudian sarapan.
         Yogyakarta.       Setelah        menyelesaikan                         Kalau  masih  ada  waktu  panjang,  bisa
         pendidikannya,  beliau  memilih  mengabdikan             salat   Dhuha    terlebih   dahulu   sebelum
         diri  sebagai  pengajar  di  lingkungan  SMA             berangkat  ke  sekolah,”  tuturnya  pelan.  Pagi
         Muhammadiyah 2 Yogyakarta.                               bagi  beliau  bukan  sekadar  awal  hari,
                           Rasa  penasaran  menuntun  saya  pada  melainkan     permulaan     dari    rangkaian
         sosok pembina asrama yang akrab                          tanggung jawab yang terus berjalan. “Setelah
         disapa Mbak Yulis, dalam perjalanannya beliau,           sampai  di  sekolah,  mengajar  di  kelas,
         beliau tidak hanya hadir sebagai guru di ruang           menyiapkan  bahan  ajar,  koreksi  tugas  anak-
         kelas.  Pada  saat  yang  sama,  asrama  juga            anak  sampai  sore.”  Waktu  yang  bergerak
         tengah  membutuhkan  seorang  pengurus,                  cepat di sela kesibukan
         dikarenakan  lokasi  asrama  yang  berdekatan            yang  tak  pernah  benar-benar  usai.  Namun,
         dengan  tempat  beliau  mengajar,  amanah  itu           selepas  kegiatan  sekolah,  perannya  belum
         pun    diterima    dengan     harapan     dapat          berhenti  sampai  di  sana.  “Setelah  sore  ada
         mendampingi  sekaligus  membersamai  anak-               kegiatan tambahan, yaitu les privat ke anak-
         anak asrama dalam kesehariannya.                         anak,  bisa  di  asrama  atau  di  luar  asrama
                                                                  sampai malam,” sambungnya.
   37   38   39   40   41   42   43   44   45   46   47